Entri Populer

Kamis, 07 Februari 2013

Kata dan Doa



Biarkan aku mengetuk pintu langit di sepertiga malam, ku ingin mengadu pada-Nya tentang diri mu. yang telah membutakan arah ku, merenggut tiap rasa dari hati ku.

Kamis, 24 Januari 2013

Menghilang





Gelapnya kesendirian mulai mengenggam ku dengan eratnya, dan tanpa terasa aku mulai memudar. Bersama diri mu yang mulai menghilang. Malam pun berbaring di samping ku seraya berkata “mengapa kau selalu menunggu dirinya yang belum tentu menanti diri mu”. 

Aliran rindu ini  mengingatkan aku pada penyair dari Elea, yang selalu bersyair cinta tapi nampak selalu berduka. Nista rasanya berbicara cinta namun kau tak bahagia. Ah sudahlah! Lelah ku berandai-andai. Ku tengok langit lagi dan kau masih menghilang
... wahai rembulan

Jumat, 18 Januari 2013

Perpisahan



Gumpalan putih di langit biru kini mulai tergantikan. Awalnya berarak bersama seperti kekasih yang memadu cinta, kini mulai terpisah. Menjauh, tak bisa lagi berjumpa. Yang awalnya membiru kini mulai menyaru. Aku pun tertegun sambil memandang ke atas. Segaris rona merah menyapa dengan kelamnya pertanda aku akan segera berpisah darinya. 

Aku pun masih belum bisa beranjak dari tempat ku berdiri seakan aku adalah bagian dari drama ini. Seiring beratnya ku langkahkan tapak kaki,  bulan pun memperdaya senja hingga tak tampak lagi di muka.  Satu persatu kilauan kemerlap cahaya di sana mulai bermunculan. Mungkin inilah saat di mana aku harus berpisah dengan indahnya langit di waktu senja. 

Jumat, 11 Januari 2013

Engkau

 @maulanafm

Engkau adalah langkah kaki di musim semi

Tempat dimana kelopak bunga lili

Menyemi hati para dewi


Engkau adalah jantung kota Alexandria

Tempat dimana kau bisa menabur benih cinta lalu ia akan tumbuh dengan sendirinya


Nada dan cahaya adalah rias mu, rembulan dan bintang adalah pandang mu

Dan bila kau tahu, bidadari pun melirik malu saat menatap mata mu

Tak salah bila semua pria selalu mengekor pada mu

Dan malam pun juga berkata “ mereka menitipkan sejumput rasa pada gelapnya diri ku,

Karna aku, adalah waktu tersyahdu antara manusia dengan Tuhan nya”

Aku mulai habis kata

Jumat, 07 Desember 2012

Makna Cinta

Akhirnya bisa merealisasikan janji yang dulu buat nulis pemahaman topik "itu" sekarang , yah walau lagi ga kondusif yah disempet-sempetin lah ya daripada lupa dan nyesel pada akhirnya, iya ga? hehe :p

Yaps topik itu ga lain dan ga bukan tentang CINTA *frontal! Mungkin yang tau gue dah bosen kali ya kalau gw bahas topik ini tapi suer deh kali ini emang harus di share sih cz entah kenapa gue ngerasa mendapatkan pencerahan mengenai topik ini akhir-akhir ini. Kalau dulu dipostingan -Ketika Fariz Memaknai Cinta - itu merepresentasikan gue yang dulu, sekarang I.Allah postingan ini merepresentasikan apa yang gw pikirin dan rasakan tentang satu mahluk yang sulit gue definisikan, cinta.

Sebelumnya jujur, pencerahan yang gue rasakan ini benar-benar ngebuat gw merasa tertohok dan tertampar saat itu. masih mending tertamparnya pake tangan, pas dapet pencerahan itu gue ngerasa dapat tamparan pake kaki #eh buset hahah (maklum atlet taekwondo pasti pernah lah ya ngerasain ditampar pake kaki hueheue). Pencerahan ini berbentuk sebuah kabar bahagia dari seorang yang bisa dibilang jadi panutan gue dan salah satu orang yang gue kagumi. beliau yang menyampaikan sebuah kabar bahagia, yang mana gue ga duga-duga bakal secepat dan senyata itu hehe (ngemeng walimahan susah bener bro! haha). Dari sana gue belajar memandang suatu hubungan yang syarat dengan cinta yang berbeda dengan cinta-cinta yang lain yang sering gue saksikan. Ini tulus, Lillahita'ala, dan luar biasa mpe susah inih gue mencoba merangkainya. sebuah hubungan yang dibangun berlandaskan ibadah, tanpa nafsu yang menyelimuti setiap rasa. Rasa malu pun saat itu mulai menyergap diri ini. Terbayang seorang pemuda yang telah hidup selama 20 tahun silam begitu salah mengartikan dan memahami tentang perasaan ini.

Dulu gue selalu sangat bernafsu ketika berbicara cinta, selalu menjadikan cinta sebagai goal yang merupakan akhir dari sebuah rasa. Yah alhasil grasak grusuk dan ga jelas deh jadinya. Rindu yang selalu menyelimuti, gelisah yang selalu menemani, hingga ketakutan yang selalu menghantui di saat berpikir bagaimana bila cinta ini tak terbalaskan atau bertepuk sebelah tangan. huhuh sedih ya wkwk. Namun sekarang semua itu telah berubah... Kini ku mulai memaknai cinta dengan berbeda. 


Kini aku seterang bulan purnama
Yang mulai menyadari arti kata cinta
Yang tak lebih dari sekedar rasa
Bilamana kau mulai bertanya
Apa makna dari cinta?

Selasa, 27 November 2012

Futur Tingkat Dewa






















Aku bukanlah seperti yang terlihat dari permukaan
Aku adalah kegelapan yang ditutupi cahaya malam
Apa yang terlihat sebenarnya adalah selapis membran kebaikan yang terikat bersama kepalsuan dan kemunafikan
Lapisan itu selalu menjagaku
Menciptakan persona bagiku agar kalian tertipu diriku

Senyum ku tak lebih dari sekedar gerakan bibir
Tawa ku tak lebih dari sebuah keterpaksaan
Bilamana kau bertanya siapa jadinya diri mu?
Sebenar-benarnya diri ku adalah

Rabu, 14 November 2012

Ketika Fariz Memaknai Cinta

Senyam senyum sendiri di saat ngeliat tugas jurnal logpenil dulu.. Kalau ga salah tanggal yang tertera itu 7 Juni 2010, ga terasa ya waktu begitu cepat berlalu :3

Namun ga hanya waktu aja yang berubah, pemahaman tentang topik ini pun juga berubah mas bro. Tapi dikesempatan kali ini mau share pemahaman "topik ini" sekitar 2 tahun lalu. Ntar kalau udah kondusif bakal ngecompare pemahaman yang sekarang deh heuheu.. selamat menikmati

Ketika Fariz Memaknai Cinta

Betapa bahagianya orang yang dapat menggungapkan rasa cintanya kepada orang lain. Karena itu adalah salah satu hal yang paling membahagiakan di dunia ini Terkadang Ia iri dengan orang yang selalu terbuka dan dengan mudahnya menyatakan perasaan yang Ia rasakan. Kenapa seperti itu? Karena Ia adalah orang yang hanya bisa merasakan cinta tanpa dapat mengungkapkannya. Dari sejak kecil Ia memiliki sifat yang pemalu. Terutama dengan lawan jenis. Seiring bertambahnya usia dan waktu kian berlalu, Ia pun tetap menjadi sosok yang sulit mengungkapkan perasaan yang Ia rasakan. Oleh sebab itu Ia pun sulit mendapatkan cinta.

Cinta
Begitu nikmat kala dibuainya Begitu indah ketika digenggamnya Begitu menyenangkan untuk dikenangkan Begitu syahdu untuk dibisikkan Begitu mesra untuk diucapkan
Namun...
Begitu sakit ketika dicampakkan Begitu sedih kala ditinggalkan Begitu kecewa saat dihapuskan juga Begitu sulit untuk dilupakan