Entri Populer

Rabu, 07 Agustus 2013

Sebuah Akhir


Haruskah segalanya berakhir dengan kesempurnaan?

Kini engkau mulai menghilang. Tanpa ada kata yang terucap engkau terus melangkah, jauh menjauh dari tempat ku berpijak. Sesederhana itu kah engkau tuk pergi? 

Mengawali kisah dengan sebuah tanya. Ku habiskan waktu untuk sekedar merenung, menanti sebuah pertemuan. Menunggu dalam ketidakpastian yang tak pernah bisa ku jawab dengan pasti. Sekejap ku menjelma menjadi ahli hitung, dalam satu satuan waktu ku mengukur seberapa jauh jarak kita tuk bertemu. Mungkin terdengar sendu bagi mu, tapi inilah yang ku rasa. Karena bila kau tahu, jauh dalam agungnya bukit dan landainya cemara tubuh ini bergetar saat ku tahu akan bertemu dengan mu. 

Melebihi fasihnya para sufi saat ku mengucap nama mu, melebihi lembutnya para rahib saat  ku menanti diri mu. Sungguh, jauh di lubuk hati yang terdalam ku selalu menanti diri mu. Sebab bila pedang lukai tubuh masih ada harapan tuk sembuh namun bila rindu lukai hati kemana obat harus dicari? Tak perlu malu tuk sekedar mengamini, bukankah obat dari segala rindu hanyalah waktu.

Hari penantian pun tiba. Kini kau mulai hadir di sisi. Pada awalnya tak ada satu waktu yang terbuang, tanpa berlindung dalam teduhnya bayang mu. Layaknya sepasang kekasih yang memadu cinta, kita sulit terpisah. Namun seiring berjalannya waktu ku mulai terlupa. Seakan sensasi mulai memudar atau kadar insulin yang mulai menurun. Aku tak mengerti. Mulai ku tanya diri, apakah  benar emosi ini atau sekedar persona? yang ku ungkapkan pada dunia kalau aku benar-benar menanti diri mu. Apakah selama ini ku lapisi diriku denga kain kepalsuan, yang tertutup erat-erat hingga bila ada yang melihat diri ku maka mereka akan berkata “kau memang jiwa yang merindu”? Oh Ya Rabb, maafkan lah aku.

Karena aku jauh dari kata sempurna, berharap takwa pun masih tak pantas rasanya. Memang aku adalah mahluk yang mendua, kadang khilaf kadang salah. Ramadhan yang kau sediakan bagi ku untuk menjadi pribadi yang lebih baik tak ku manfaatkan dengan sempurna. Selalu ada penyesalan yang tertinggal saat engkau mulai pergi. Entah ini tandakan karatnya hati atau memang rasa abadi saat Ramadhan mulai pergi. 

Oh Tuhan. Saat ku mulai tersadar, waktu kian menipis. Masihkah ada siswa waktu untuk maksimalkan ramadhan tahun ini? Nampaknya aku terlambat. Yang hanya bisa kulakukan hanyalah berlari hingga ke sudut tergelap dari malam hanya untuk mengantar diri mu pada ujung ikhlas ku. walau aku tahu takkan ada yang bisa menjamin untuk kita kan bertemu.

Rabu, 17 Juli 2013

Tanya dan Hujan




Kau pernah bertanya, mengapa ku selalu menghindar dari mu di kala hujan? Dan aku pun menjawab “Payung yang ku bawa memang bisa menahan derasnya hujan yang terjatuh dari langit,

Tapi

bagaimana mungkin bisa menahan derasnya pesona saat kau mulai menatap?

*sejenak kau pun terdiam dan aku pun tersenyum


Kamis, 20 Juni 2013

Samurai dan Cinta



Saat yang sulit ketika kita memiliki samurai yang tajam adalah tetap menjaganya dalam sarung pedang. Begitu pun dengan cinta yang suci, sanggupkah kau untuk tetap menahannya di dalam hati?

Hingga kau siap menghampiri


Kamis, 09 Mei 2013

Harus (kah) Kembali







Semenjak ku pikir tuk pergi, entah kemana kan labuhkan hati. Hanya berjalan mengikuti riuh angin yang berhembus dan pada akhirnya ku terdampar di negeri antah berantah, negeri yang tak pernah ku kenal. Negeri yang ku kira ramah pada ku ternyata tak sesuai harapan. Sunyi, hingga ku dapat mendengar aliran darah ini.

Katup mata yang mulai melayu tak menjamin hati ini untuk melepas. Karena rasa yang ditabur makna takkan sirna sekejap mata. Dan dalam seketika aku pun menjelma menjadi ahli rindu. Yang begitu syahdu saat mengingat diri mu. Namun itu semua hanyalah kenangan, yang tertinggal di dalam ingatan

Saat ku mulai beranjak pergi, segaris senyum di wajah itu meluluhkan hati. Haruskah aku kembali? Sungguh ku tak percaya..

Minggu, 05 Mei 2013

Harus Pergi (?)




 
Tidak semuanya harus ku simpan di dalam sini. Mesti ku harus menikamnya secara perlahan detik demi detik, kenangan. 

Bukan karena tak lagi perduli bahkan jauh dalam agungnya bukit dan landainya cemara tak satu waktu pun bisa terlepas dari bayangnya. Pipi yang basah ini akan selalu jadi saksi atas setiap doa yang mengangkasa, terbang bersama alunan rindu menuju Sang Pencipta..

Minggu, 28 April 2013

Pemuda Sedingin Salju (2)



Seperti biasa, langit yang ku tatap masih langit yang sama. Terhampar gumpalan putih yang  tersusun di muka , layaknya kekasih yang sedang memadu cinta. Bertebaran di langit biru nan mega. ohh sungguh pemandangan ini suguhkan sebuah drama yang ingin kau jumpa. Segaris rona jingga pun mulai menyapa dunia. Nampaknya sudah satnya aku harus mulai bergegas. *sambil menggigit roti saat bergegas

Memecah heningnya kota dengan suara langkah yang menggema.. Ku tapakkan kaki yang satu di depan kaki yang lain. Menghirup segarnya nafas pepohonan, tak terasa sampailah aku di tempat tujuan.

Hening, tak nampak tanda-tanda kehidupan di sini. Ku lihat pergelangan tangan ku, ku coba mengintip jam berapa sekarang dan ternyata aku lupa waktu itu aku tak sempat memakai jam tangan haha. Ya sudahlah namanya juga hari yang baru, semangat pun masih menggebu. Ku keluarkan handphone ku dan ternyata waktu masih menunjukkan pukul 7 pagi

Selasa, 16 April 2013

Pemuda Sedingin Salju (1)




Masih jelas dalam benak ku, saat pertama kali ku bertemu diri mu.. Malu rasanya bila kenangan itu harus kembali mengetuk alam bawah sadarku. Menyajikan sekotak memori yang selalu aku takut selami. entah kenapa aku begitu takutnya untuk membuka kembali mungkin bukan aku takut membuka, namun yang kutakutkan adalah rasa yang tersimpan di dalamnya..


Ingat kah engkau saat kita saling melintas di ruang yang sama, namun belum ada kata? Dan tanpa terasa waktu pun perlahan mati, semua mulai memudar saat kita saling menatap.